Ketatnya persaingan menembus dapur rekaman membuat band-band baru harus berjuang keras untuk mendapatkan jatah rekaman. Sayang sekali, perjuangan untuk menembus pintu dapur rekaman terkadang harus dihadapkan pada kenyataan yang kurang menyenangkan. Mereka harus dihadapkan pada dua pilihan, mengikuti keinginan produser meskipun harus mengorbankan idealisme bermusik mereka, atau gagal rekaman. Tentu keduanya bukan pilihan yang menyenangkan buat para pemusik, terlebih musisi muda baru yang masih cukup idealis.
Sayangnya, musisi idealis kerap kali tersisih. Hukum bisnis memaksa para produser menyingkirkan idealisme mereka dan hanya banyak berkonsentrasi pada musisi yang “menjual”. Sayang sekali, banyak bakat hebat tersisih dan kemudian terkubur hanya karena berlawanan arus dengan tren yang sedang ada. Band-band macam ini yang kemudian mencoba berontak melawan arus major label dengan merekam dan menyebarkan sendiri lagu-lagu mereka. Band-band inilah yang kemudian dikenal sebagai band Indie.
Sadar akan keterbatasan modal, band Indie menyikapi dengan kesederhanaan. Jalur pertemanan menjadi cara mujarab menyikapi biaya rekaman dan penyebaran kaset mereka. Desain cover kaset bahkan bisa didapat dengan gratis atas nama pertemanan. Penyebaran banyak dilakukan dengan cara menitipkan kaset ke distro-distro milik kawan mereka sendiri. Meski terkesan lambat, saat ini ternyata setidaknya ada lebih dari 20.000 band indie di Indonesia dan pasti terus bertambah. Tak jarang, beberapa dari band indie tersebut dilirik perusahaan rekaman besar karena dianggap prospektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar